Strategi Humanis Polisi Wujudkan Wilayah Kondusif Lewat Jumat Curhat
Polsek Tigaraksa bersama warga usai melaksanakan program Jumat Curhat. (Rikhi Ferdian)
fin.co.id - Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir kopi plastik yang berjejer di atas meja kayu Balai Warga di wilayah Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Di sekeliling meja, beberapa pria berjaket biru bertuliskan Bhabinkamtibmas duduk bersila, membaur tanpa sekat bersama bapak-bapak berkaos oblong dan para ibu rumah tangga. Tidak ada podium mewah, tidak ada protokoler atau pengawalan ketat. Di sinilah, Polsek Tigaraksa memindahkan "ruang kerjanya" langsung ke garis depan pertahanan sosial masyarakat, melalui program Jumat Curhat.
Bagi kepolisian wilayah urban yang rawan gesekan seperti Tigaraksa, keamanan tidak lagi bisa dikendalikan secara mutlak dari balik meja kantor atau sekadar lewat raungan sirine mobil patroli. Polsek Tigaraksa menyadari bahwa tantangan zaman menuntut mereka beralih ke taktik proaktif; sebuah metode lapangan yang mereka sebut sebagai gerakan "belanja masalah".
Di bawah teduh atap balai warga, lembar demi lembar catatan sosiologis merekam bagaimana sekat birokrasi antara aparat penegak hukum dan masyarakat mencair menjadi dialog interaktif yang jujur. Kali ini warga tidak perlu lagi melangkah sambil membawa rasa sungkan ke markas polisi untuk mengadu. Sebaliknya, aparatlah yang mengetuk pintu-pintu kampung, membawa telinga dan komitmen untuk menampung segala unek-unek di tingkat akar rumput. Dibalut suasana yang hangat dan akrab, agenda mingguan ini bukan lagi sekadar seremoni pengisi kalender kedinasan, melainkan sebuah jembatan emosional yang sarat filosofi bahwa menjaga kedamaian sebuah wilayah, harus dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan.
Program Inovatif Kapolda Banten, Dirancang Sebagai Wadah Interaktif
Jumat Curhat merupakan program inovatif Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H yang turut diimplementasikan oleh Polresta Tangerang dan jajaran polsek. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah interaktif yang memangkas jarak antara polisi dengan masyarakat secara langsung. Melalui pendekatan proaktif dengan sistem "belanja masalah" polisi hadir di tengah-tengah warga untuk mendengarkan keluhan, aspirasi, serta memetakan solusi atas permasalahan riil yang sedang dihadapi.
Komunikasi yang dibangun sengaja dibuat lebih santai dan cair agar masyarakat tidak ragu dalam menyampaikan keresahan mereka. Dari sinilah, kepolisian dapat mendeteksi anatomi masalah sejak dini. "Melalui program Jumat Curhat Polsek Tigaraksa berkomitmen mengubah pola pelayanan konvensional menjadi lebih humanis," ungkap Kapolsek Tigaraksa, AKP I Made Artana, kepada penulis pada Ahad (14/6/2026) sore.
Konsistensi Polsek Tigaraksa dalam menggelar program "Jumat Curhat" dari desa ke desa ini bertumpu pada empat pilar misi strategis untuk mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang berkelanjutan, serta membongkar sumbatan komunikasi antara aparat dan warga. Keempat misi strategis tersebut yakni:
• Membuka Akses Informasi dari Akar Rumput: Hubungan komunikasi dua arah yang cair dibangun agar kepolisian dapat mengakses data dan informasi riil mengenai potensi gangguan keamanan langsung dari lapangan secara cepat dan akurat.
• Menjadi Wadah Problem Solving Lingkungan: Setiap gesekan sosial atau konflik antarwarga di tingkat RT dan RW diharapkan dapat diselesaikan secara damai melalui mufakat tanpa harus bergulir ke ranah hukum.
• Sosialisasi Hukum dan Edukasi Kamtibmas: Edukasi tatap muka mencakup pemahaman hukum pidana serta langkah preventif yang bisa dilakukan warga untuk mengantisipasi tindak kriminalitas di lingkungan terdekat.
• Menghidupkan Kembali Pemolisian Masyarakat (Polmas): Polisi menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perangkat desa untuk aktif membangun kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) sebagai "mata dan telinga" kepolisian.
"Melalui penguatan empat misi strategis ini, program proaktif ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam menciptakan rasa aman yang berkelanjutan di seluruh wilayah hukum Polsek Tigaraksa," imbuh AKP Made.
Kegiatan Jumat Curhat yang digelar di wilayah Tigaraksa itu pun mencatatat tiga isu Kamtibmas yang mendesak untuk ditangani secara struktural dari hulu ke hilir oleh kepolisian. Pertama, maraknya aksi tawuran pelajar yang meresahkan para orang tua. Menanggapi hal ini Polsek Tigaraksa melihat, memutus rantai tawuran ini tidak bisa hanya mengandalkan patroli statis mobil sirine di jam pulang sekolah. Perlu ada intervensi melalui kolaborasi ketat di "dua lini" utama, yaitu:
• Lini Sekolah (Intervensi Struktural): Pihak sekolah didorong untuk merekonstruksi jam krusial pasca-pembelajaran. Memperbanyak kegiatan ekstrakurikuler dan memberikan penugasan positif yang terstruktur dinilai menjadi formula efektif untuk mengeliminasi peluang pelajar terjerumus pergaulan salah.
• Lini Keluarga (Benteng Sosiologis): Polisi mengingatkan para orang tua di ruang Jumat Curhat untuk tidak mendelegasikan fungsi pengawasan sepenuhnya kepada sekolah. Kontrol sosiologis saat anak di luar jam sekolah harus diperketat dengan aktif memvalidasi tujuan mereka keluar rumah serta membangun komunikasi dua arah yang empatik.