KPA Kabupaten Tangerang Temukan 203 Kasus Baru HIV, Tertinggi di Kelompok LSL
Ilustrasi HIV AIDS - dok. FIN
TANGERANG, FIN.CO.ID – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tangerang menemukan 203 kasus baru HIV selama periode Januari hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 164 kasus ditemukan di dalam wilayah Kabupaten Tangerang, sedangkan 39 kasus lainnya berasal dari luar wilayah.
Kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) tercatat sebagai penyumbang kasus tertinggi dari empat populasi kunci lainnya, yaitu Wanita Pekerja Seks (WPS), waria/transgender, pengguna napza suntik, dan pelanggan pekerja seks.
Pengelola Program KPA Kabupaten Tangerang, Eko Darmawan, menjelaskan bahwa tingginya temuan pada kelompok LSL berkaitan erat dengan faktor biologis. Hubungan seks anal reseptif tanpa pelindung memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap penularan HIV.
Namun, Eko menegaskan bahwa hal ini bukan disebabkan oleh identitas kelompok tersebut. Penularan murni terjadi karena perilaku seksual yang tidak terlindungi, apa pun orientasi seksualnya.
Baca Juga
"Secara medis, hubungan seks anal tanpa pelindung memang memiliki risiko penularan HIV yang lebih tinggi dibanding jenis hubungan seksual lain. Ini alasan ilmiah, bukan soal menyalahkan kelompok tertentu," ujar Eko, Rabu (12/8/2026).
Menurut Eko, tantangan terbesar saat ini adalah memberikan rasa aman bagi populasi kunci. Mereka harus bisa mengakses layanan tes dan pencegahan tanpa perlu takut mendapatkan cap buruk atau stigma dari masyarakat.
Di sisi lain, tingginya angka ini juga menunjukkan sisi positif. Hal tersebut mencerminkan keberhasilan KPA dan jaringan komunitas dampingan dalam melakukan penjangkauan serta pemeriksaan (testing) dini sejak awal. Jadi, angka yang tinggi bukan semata-mata karena lonjakan penularan yang tidak terkendali.
Untuk menekan angka penularan, KPA Kabupaten Tangerang kini terus menggencarkan berbagai langkah pencegahan yakni dengan melakukan penjangkauan aktif lewat mitra komunitas, menyediakan layanan tes HIV secara berkala, mengedukasi penggunaan alat pelindung, dan mengenalkan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis atau Pra-Pajanan Profilaksis) bagi populasi yang berisiko tinggi.
"Kami mengimbau masyarakat, siapa pun, untuk memeriksakan diri secara berkala dan menggunakan pelindung saat berhubungan seksual. Layanan tes HIV di Puskesmas dan rumah sakit jaringan KPA bersifat gratis dan rahasia," pungkas Eko.