83 Persen Wilayah Kabupaten Tangerang Berpotensi Krisis Air Bersih
Bappeda Kabupaten Tangerang saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang. (Rikhi Ferdian)
TANGERANG, FIN.CO.ID - Sekitar 83 persen wilayah di Kabupaten Tangerang dilaporkan berpotensi mengalami krisis air bersih. Ancaman kekeringan ini terungkap berdasarkan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), Selasa (1/9/2026).
Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Wilayah Bappeda Kabupaten Tangerang, Ismail Hasan, mengatakan bahwa angka 83 persen tersebut bukan sekadar estimasi kasar. Data tersebut valid dan tercantum resmi dalam dokumen KLHS yang disusun oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang.
“Dalam KLHS itu 83 persen, Pak. Kekeringan air bersih,” ujar Ismail dalam Rapat Dengar Pendapat di Kantor DPRD Kabupaten Tangerang.
Menurut Ismail, krisis air bersih ini mendesak di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Beberapa kecamatan yang kini menjadi sorotan utama antara lain Tigaraksa, Cikupa, dan Pasar Kemis.
Baca Juga
Ia menjelaskan, lonjakan populasi memicu ketimpangan tajam antara ketersediaan pasokan air dan kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
“Suplai dan demand ini jomplang. Jadi masyarakat yang padat tersebut banyak, tapi suplai airnya kurang,” kata Ismail menambahkan.
Hasil KLHS yang memuat daya dukung dan daya tampung air per kecamatan ini, lanjut Ismail, kini diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tangerang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang tengah menggeber sejumlah proyek infrastruktur penunjang. Mulai dari pembangunan kolam retensi, tandon, polder, bendungan, hingga penyediaan air baku.
Tidak hanya mengandalkan proyek internal, Pemkab Tangerang juga menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat pasokan air bersih dari luar daerah. Salah satunya berkolaborasi memanfaatkan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak.
“Dalam Bendungan Karian ini kita melakukan kerja sama pembangunan infrastruktur jaringan perpipaan dari sana, yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB),” jelas Ismail.
Baca Juga
Di sisi lain, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Deden Umardani, mengungkapkan bahwa dampak kemarau panjang saat ini sudah sangat dirasakan warga, khususnya di Kecamatan Cikupa, Curug, dan Panongan.
Bahkan, puluhan masjid dan pondok pesantren di wilayah Panongan dilaporkan mulai kesulitan mengakses air bersih untuk keperluan ibadah dan wudu.
Deden pun mendesak pemerintah daerah segera mengambil tindakan cepat dan taktis di akhir pekan ini.
"Saya minta agar Kamis dengan Jumat pagi fokus pesantren dengan masjid yang kekeringan air. Setidaknya sholat Jumatnya tidak kesulitan air wudhu. Ada beberapa pesantren di Panongan saat ini sudah sama sekali airnya enggak ada," pungkas Deden.