Persoalan Tahunan Banjir Cisereh Tigaraksa, Warga Desak Normalisasi Sungai Cipayeum
Sungai Cipayeum di Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, yang disebut warga menjadi penyebab persoalan tahunan berupa banjir berulang. Foto: Rikhi Ferdian
TANGERANG, FIN.CO.ID — Warga Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, hingga kini masih dibayangi persoalan tahunan berupa banjir berulang yang belum kunjung surut solusinya. Kondisi ini diperparah oleh penyempitan aliran Sungai Cipayeum yang diduga akibat pendirian bangunan di kawasan garis sempadan sungai. Hingga saat ini, belum ada penanganan konkret berupa normalisasi dari instansi terkait untuk mengatasi masalah tersebut.
Kepala Desa Cisereh, Iskandar, meminta Gubernur Banten Andra Soni untuk turun tangan dan meninjau langsung kondisi Sungai Cipayeum. Menurut Iskandar, banjir ini merupakan masalah menahun yang dihadapi warganya sejak ia mulai menjabat pada tahun 2019.
“Sudah lamanya sedari saya menjabat tahun 2019 dan belum adanya aksi konkret oleh instansi terkait dalam normalisasi sungai. Maka saya minta tolong kepada Gubernur Banten untuk turun ke lokasi ini, karena jika Gubernur hadir maka akan nyata ini wewenang siapa dalam normalisasi Sungai Cipayeum ini,” ujar Iskandar di lokasi, dikutip Kamis (5/11/2026).
Iskandar menduga, kondisi Sungai Cipayeum semakin memprihatinkan karena area bantaran sungai yang dahulu dipenuhi pepohonan, kini sebagian telah berubah menjadi bangunan dan struktur beton. Beberapa perusahaan, di antaranya PT Nagata, PT SRKI, dan PT Mega Sumber Logam, diketahui berada di sekitar kawasan garis sempadan tersebut.
Baca Juga
Perubahan fungsi lahan ini berdampak langsung pada menurunnya kemampuan sungai dalam menampung dan mengalirkan debit air saat curah hujan tinggi. Akibatnya, wilayah Desa Cisereh bisa terendam banjir hingga tiga kali dalam setahun setiap kali musim hujan tiba.
“Kondisi aliran Sungai Cipayeum saat ini jauh lebih sempit dibandingkan sebelumnya. Perubahan kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan sungai menampung dan mengalirkan debit air ketika hujan turun,” jelas Iskandar.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, Iskandar mendesak pemerintah agar segera melakukan normalisasi Sungai Cipayeum dan memperbaiki saluran drainase yang tersumbat. Sementara untuk jangka panjang, ia mengusulkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti sodetan maupun tandon penampungan air demi mendukung pengairan lahan pertanian saat kemarau.
Keluhan serupa juga dirasakan oleh masyarakat setempat yang selalu diliputi rasa cemas. Mustopa (45), salah seorang warga, menceritakan bahwa permukiman mereka bahkan bisa terendam air meskipun hujan yang mengguyur wilayah tersebut tidak terlalu deras.
“Banjir yang berulang membuat masyarakat selalu diliputi kekhawatiran, terutama ketika hujan turun. Kami berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penanganan menyeluruh agar banjir yang menghantui Desa Cisereh tidak terus berulang,” kata Mustopa.