Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemkab Tangerang Siagakan Ambulans hingga Water Cannon
Selain menyiagakan personel, Pemkab Tangerang juga memobilisasi armada operasional khusus ke lapangan. (Rikhi Ferdian)
TANGERANG, FIN.CO.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang bergerak cepat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Langkah taktis ini ditandai dengan menggelar apel gabungan lintas sektor pada Selasa, 8 September 2026.
Apel kesiapsiagaan tersebut melibatkan ratusan personel gabungan dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan (Dinkes), Palang Merah Indonesia (PMI), hingga jaringan relawan kebencanaan.
Selain menyiagakan personel, Pemkab Tangerang juga memobilisasi armada operasional khusus ke lapangan. Mulai dari ambulans, mobil tangki air, hingga unit water cannon dikerahkan untuk mempercepat penanganan serta pembersihan dampak abu vulkanik di wilayah Kabupaten Tangerang.
Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa kesiapsiagaan penuh ini dilakukan demi menjamin pemerintah daerah hadir dan bergerak cepat jika eskalasi erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengancam aktivitas warga.
Baca Juga
Sektor kesehatan menjadi prioritas utama penanganan bencana kali ini. Maesyal menginstruksikan seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Tangerang untuk bersiaga penuh selama 24 jam nonstop. Langkah ini diambil guna merespons keluhan medis yang berpotensi dialami warga akibat paparan debu vulkanik yang pekat.
"Fasilitas kesehatan semua harus stay 24 jam apabila diperlukan. Untuk bisa ditangani apabila nanti ada masyarakat kita yang terkena penyakit ISPA, gatal-gatal, atau juga bahkan mata dan sebagainya. Kita siap untuk merespons dari sisi medisnya," kata Maesyal usai memimpin apel, Selasa, 8 September 2026.
Selain posko medis, armada mobil tangki air langsung diterjunkan ke sejumlah ruas jalan protokol. Petugas melakukan penyiraman berkala untuk menyapu abu vulkanik yang menempel di aspal demi mencegah debu berterbangan yang dapat mengganggu jarak pandang pengguna jalan.
"Kita juga sudah melaksanakan penyiraman debu-debu yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang," tambah Maesyal.
Di sisi lain, Pemkab Tangerang hingga kini masih memantau ketat grafik perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebelum menetapkan kebijakan strategis terkait aktivitas belajar mengajar di sekolah. Menurut Maesyal, kondisi cuaca dan kebersihan udara pada hari Rabu ini, 9 September 2026, akan menjadi indikator utama penentu kebijakan dinas pendidikan setempat.
"Jadi, kita lihat besok (hari ini, red). Kalau besok misalkan aman, saya putuskan kembali untuk bisa mulai lagi proses belajar-mengajar secara fisik, datang lagi dan tidak libur lagi," pungkas Maesyal.