News . 14/07/2026, 14:11 WIB

398 Pasien ISPA Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kadinkes: Semua Membaik, Nihil Pneumonia 

Penulis : Rikhi Ferdian  |  Editor : Rikhi Ferdian

TANGERANG, FIN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang memastikan penanganan medis terhadap korban terdampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin berjalan maksimal. Berdasarkan data terbaru, seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat insiden tersebut kini sudah menyentuh angka nol.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi menyatakan bahwa posko kesehatan keliling dari tiga puskesmas—terutama Puskesmas Rajeg—terus bersiaga hingga masa pemulihan selesai.

"Alhamdulillah, per hari Minggu kemarin angka ISPA akibat asap kebakaran tersebut sudah nol. Tidak ditemukan lagi kasus baru," ujar dr. Hendra Tarmizi saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

Secara akumulatif, Dinkes Kabupaten Tangerang telah melayani 1.285 warga yang terdampak kepulan asap sejak hari pertama kebakaran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 398 orang di antaranya terkonfirmasi menderita ISPA dan langsung mendapatkan perawatan intensif.

Ia memastikan seluruh pasien ISPA kini telah membaik dan tidak ada satu pun korban yang mengalami komplikasi serius menjadi pneumonia (radang paru-paru).

"Pneumonia tidak ada. Karena cepat kita tangani dan berikan obat, jadi tidak sampai terjadi radang paru. Jika sampai ke tahap itu, mereka harus dirujuk ke rumah sakit," jelasnya.

Waspada Kemarau Ekstrem dan El Nino

Kendati kasus ISPA akibat kebakaran telah reda, dr. Hendra mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi lonjakan kasus ISPA seiring memasuki musim kemarau ekstrem. Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau diproyeksikan berlangsung dari Juli hingga September, yang juga diperparah oleh fenomena El Nino.

"Secara endemi, porsi kasus ISPA normalnya berkisar 15 hingga 20 persen dari total kunjungan di setiap puskesmas. Namun, dengan adanya musim kemarau ini, trennya berpotensi meningkat hingga menyentuh batas atas 20 persen," tuturnya.

Penyakit ISPA diprediksi tetap menjadi kasus yang paling dominan selama cuaca ekstrem ini. Oleh karena itu, Dinkes Kabupaten Tangerang menyiapkan program pemantauan khusus, terutama bagi kelompok yang paling rentan.

"Semua usia sebenarnya rentan terkena ISPA. Namun, kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi dari ISPA menjadi pneumonia adalah balita dan lansia. Balita sangat rentan karena angka kesakitan dan kematiannya bisa lebih tinggi jika terlambat ditangani," urai dr. Hendra.

Sebagai langkah antisipasi door-to-door, Dinkes mengoptimalkan peran kader di setiap Posyandu Balita. Petugas akan langsung mengidentifikasi anak yang datang dengan keluhan batuk, pilek, demam, atau diare, guna memastikan apakah gejala tersebut merupakan ISPA biasa atau sudah mengarah ke pneumonia.

"Begitu ditemukan kasus, obat segera diberikan dan perkembangannya dipantau ulang. Jika tidak ada komplikasi, pengobatan dihentikan. Namun jika memburuk, kita akan langsung lanjutkan dengan terapi pneumonia," pungkasnya.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com