Begini Cara Pemkab Tangerang Antisipasi Dampak Rupiah Melemah
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid saat diwawancara. (rfh)
fin.co.id - Pemerintah Kabupaten Tangerang mengantisipasi potensi pemutusan hubungan kerja atau PHK massal menyusul tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah daerah menjadwalkan pertemuan dengan kalangan dunia usaha guna menjaga stabilitas industri manufaktur dan padat karya di wilayah tersebut.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyatakan, koordinasi intensif dengan para pengusaha di Kabupaten Tangerang mendesak dilakukan untuk mencari solusi bersama agar pelemahan kurs tidak berujung pada pengurangan tenaga kerja.
"Pemerintah daerah sudah berupaya untuk bisa bertemu dengan pengusaha-pengusaha agar tidak ada lagi kasus pemutusan hubungan kerja," ujar Maesyal, Sabtu (23/5/2026).
Selain menjaga sektor industri besar, Pemkab Tangerang juga memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bantalan ekonomi warga. Langkah ini diambil untuk memastikan perputaran ekonomi di tingkat bawah tidak mandek.
"Upaya-upaya inilah yang terus dijalankan pemerintah daerah agar daya beli masyarakat tetap terjaga, masyarakat yang belum bekerja bisa mendapatkan pekerjaan, dan kebutuhan harian mereka dapat terpenuhi," kata Maesyal.
Langkah mitigasi lain yang dilakukan adalah memantau stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di pasar. Pengendalian inflasi daerah menjadi prioritas agar beban hidup masyarakat tidak semakin berat di tengah ketidakpastian makroekonomi.
Tekanan Sentimen Global
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pada Jumat (22/5/2026) pukul 09.15 WIB, mata uang rupiah bergerak melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.701 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh faktor eksternal dan internal. Selain karena ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah, depresiasi rupiah juga didorong oleh tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri untuk kebutuhan korporasi.
Kabupaten Tangerang, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri manufaktur dan padat karya di wilayah penyangga ibu kota, sangat rentan terhadap fluktuasi kurs. Sebagian besar industri di wilayah ini masih mengandalkan bahan baku impor, sementara pasar penjualannya lesu akibat penurunan daya beli global dan domestik.