Senin, 08 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Mengulas Tigaraksa (Bagian I): Asal-Usul dan Jejak Tiga Tumenggung Melawan VOC

RFH
17/05/2026, 06:49 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi tangerangraya.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Mengulas Tigaraksa (Bagian I): Asal-Usul dan Jejak Tiga Tumenggung Melawan VOC

Monumen Tugu Tigaraksa di Bundaran Bugel, Jalan Syeh Mubarok, Kelurahan Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. (Arsip)

fin.co.id -  Jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan daerah Kabupaten Tangerang, nama Tigaraksa menyimpan sejarah panjang. Banyak yang belum tahu, Tigaraksa yang kini menjadi Kantor Bupati dan Gedung DPRD, berabad-abad lalu merupakan benteng pertahanan militer rahasia andalan Kesultanan Banten.

Berdasarkan catatan resmi Pemerintah Kabupaten Tangerang, nama Tigaraksa memiliki arti "Tiang Tiga" atau "Tilu Tanglu" dalam bahasa Sunda. Istilah ini merujuk pada tiga ulama pimpinan bergelar Tumenggung yang diutus Kesultanan Banten pada pertengahan abad ke-17, yaitu Tumenggung Aria Wangsakara, Tumenggung Aria Yudhanegara, dan Tumenggung Aria Jaya Santika.

Namun, usut punya usut, "Tiga Maulana" pembangun benteng pertahanan Tigaraksa ternyata bukanlah putra daerah asli Banten. Berdasarkan manuskrip kuno Kitab Paririmbon Kaarian Parahiang, Raden Aria Wangsakara, Raden Aria Yudhanegara, dan Raden Aria Jaya Santika merupakan para pangeran bangsawan dari Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat.

Ketiga tumenggung muda ini murni berdarah biru. Raden Aria Wangsakara dan Raden Aria Jaya Santika merupakan cucu langsung dari penguasa termasyhur Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, dari jalur sang ibu yang bernama Nyimas Nurteja. Silsilah mereka juga tersambung sebagai keturunan penguasa terakhir Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Prabu Pucuk Umun.

Advertisement

Alih-alih menolak bersekutu dengan kompeni, tiga pangeran Sumedang ini justru lari ke Banten yang kala itu disambut oleh Sultan Abdul Mufakhir di Istana Kesultanan Banten. Hubungan mereka pun terhitung sangat dekat karena masih terikat kekerabatan dengan keluarga dinasti Kesultanan Banten melalui jalur Pangeran Kartajiwa. Kepercayaan penuh dari Sultan Banten inilah yang melatarbelakangi mandat bagi mereka untuk membuka wilayah otonom baru bernama Kaarian Tangerang, yang berpusat di benteng militer Tigaraksa.

Taktik Perang Gerilya dan Pasukan Air "Kurawaci "

Jejak perjuangan tiga tumenggung melawan kompeni ini dipenuhi dengan kecerdikan taktik militer dan keteguhan iman. Sebagai bangsawan sekaligus ulama yang menolak tunduk pada penjajahan, mereka membangun benteng-benteng pertahanan kokoh di sepanjang aliran barat Sungai Cisadane.

Untuk memukul mundur pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern, Aria Wangsakara dan saudara-saudaranya membentuk pasukan elit khusus matra air yang dinamakan Pasukan Kurawaci. Melalui pasukan air ini, mereka mengontrol jalur logistik musuh di sungai dan melancarkan serangan gerilya mendadak yang mematikan.

Puncak perlawanan bersenjata mereka terjadi saat perang dengan kongsi dagang Belanda tersebut pecah dalam sebuah peristiwa epik yang dikenal sebagai Pertempuran Tujuh Bulan antara Mei 1658 – Juli 1659. Perang ini menjadi salah satu palagan paling berdarah dan melelahkan bagi kompeni Belanda di wilayah barat Sungai Cisadane. Tercatat, kegigihan taktik bertahan mereka sukses memaksa VOC kewalahan dan terpaksa mengajukan gencatan senjata akibat kerugian materiil yang sangat besar.

Tidak hanya mengandalkan senjata, tiga maulana ini mengobarkan semangat perlawanan lewat jalur spiritual dan pendidikan. Di tengah berkecamuknya ancaman dari Batavia, mereka mendirikan jaringan pesantren di wilayah Tigaraksa dan Ciledug sebagai pusat penggemblengan mental.

Masyarakat lokal tidak hanya diajarkan ilmu agama dan mengaji, tetapi juga dibekali dengan ilmu kanuragan serta doktrin patriotisme Islam. Strategi ini berhasil menyatukan rakyat Tangerang secara emosional untuk menolak segala bentuk penindasan kolonial.

Sejarah besar itu resmi dipahat pada tanggal 13 Oktober 1632, hari di mana ketiga penguasa legendaris tersebut secara resmi dilantik oleh Kesultanan Banten untuk memegang takhta pertahanan wilayah Barat.

Hingga kini, tanggal 13 Oktober tersebut dirayakan setiap tahun sebagai Hari Jadi Tigaraksa sekaligus penanda resmi Hari Jadi Kabupaten Tangerang. Atas kepahlawanan yang luar biasa dalam mempertahankan tanah Banten ini, Raden Aria Wangsakara secara resmi telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Advertisement

Walau riwayat kepemimpinan "Tiga Maulana" ini sempat dipaksa berakhir akibat tekanan politik Perjanjian VOC pada 17 April 1684, nama ketiganya diabadikan sebagai nama jalan-jalan utama di wilayah tersebut. Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah besar ini turut dibangun Monumen Tugu Tigaraksa atau sering disebut Patung Tiang Tiga/Tilu yang berada di Bundaran Bugel, Jalan Syeh Mubarok, Kelurahan Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.***

Bagikan Artikel
Rikhi Ferdian Herisetiana
Rikhi Ferdian Herisetiana
Penulis
FIN.CO.ID untuk daerah Tangerang Raya