Imbas Jalan Utama Dipagari Beton, Warga Rajeg Tangerang Terisolasi!
Kondisi jalan poros desa di Kampung Rajeg Tegal, Desa Rajeg, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, usai dipagari beton oleh pihak swasta. (Rikhi Ferdian)
TANGERANG, FIN.CO.ID - Akses mobilitas warga Kampung Rajeg Tegal, Desa Rajeg, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, kini tersendat akibat jalan poros desa yang selama ini menjadi akses utama masyarakat ditutup oleh pihak swasta.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sebagian lahan yang semula berfungsi sebagai akses utama warga kini tidak dapat dilewati. Area tersebut telah disekat menggunakan pagar beton pembatas (barier). Sebuah pintu gerbang besi tinggi berwarna biru terpasang kokoh, mengunci jalur bagi pengendara maupun warga sekitar yang ingin melintas.
Sementara, di dalam area lahan yang dipagari, tertancap sebuah plang peringatan bertuliskan "TANAH INI MILIK PT. ASIA CHEMICAL INDUSTRY."
Imbasnya, penutupan jalan poros desa tersebut memaksa warga Kampung Rajeg Tegal mengalihkan rute perjalanan mereka ke area perumahan Rajeg Residence 3. Namun, alih-alih mencari jalan alternatif hal ini justru memicu konflik.
Baca Juga
Warga komplek perumahan keberatan jalan mereka dijadikan perlintasan utama karena jalan perumahan tersebut bukan jalan umum.
Ketegangan sempat memuncak ketika sejumlah kendaraan roda empat (mobil) nekat melintas, memicu adu mulut antara pengguna jalan dan warga perumahan. Akhirnya, pihak pengelola perumahan kini telah memasang portal agar jalan mereka tak lagi ramai dilintasi pengendara.
Jalan poros desa yang diduga disabotase oleh pihak swasta itu pun kini dikeluhkan para warga. Salah satunya Sukra, seorang warga setempat yang rumahnya berada tak jauh dari jalan yang dipagar beton tersebut.
Menurut Sukra, warga merasa bingung dengan status kepemilikan lahan yang mendadak diklaim dan dipagari oleh pihak swasta. "Informasi yang beredar, katanya lahan itu dibeli dari hasil lelang dan mau dibangun. Namun, kami warga di sini sama sekali tidak mendengar kabar kepastiannya (rencana pembangunan)," ujar Sukra saat ditemui di lokasi, Senin 24 Agustus 2026.
Menurut Sukra, para warga juga sebenarnya mempertanyakan transparansi dari aparatur desa soal status jalan poros tersebut. Ia heran mengapa jalan yang sejak tahun 1980-an dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat bisa berpindah tangan tanpa sepengetahuan warga.
"Pertanyaannya, masa jalan desa dijual dan pihak desa sampai tidak tahu? Kok bisa dijual? Sekarang jalan alternatif diportal pengembang, kami bisa tidak punya akses lagi," ucapnya.
Baca Juga
Ia menambahkan, ketegangan sempat pecah saat portal perumahan mulai ditutup ketat. Akses bagi kendaraan kecil, termasuk angkutan lingkungan seperti odong-odong, kini tidak lagi diberikan izin melintas.
Padahal, menurut Sukra, di ujung jalur yang ditutup tersebut terdapat fasilitas jembatan yang menghubungkan dengan desa lainnya. "Itu kan ada jembatan, masa sekarang jadi jalan buntu. Kecuali tidak ada jembatan, baru boleh dikata buntu. Sekarang kalau ditutup semua, warga kecil seperti kami yang paling merasakan dampaknya," tutur Sukra.
Hingga berita ini diturunkan, wartawan sudah berusaha mengonfirmasi pihak desa dan kecamatan Rajeg tetapi belum mendapatkan respons.