Imbas Kasus Bom Pelajar MAN 3 Padang, Dindik Tangerang Perkuat Program Sekolah Aman Lewat BASN
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Dadan Gandana
TANGERANG, FIN.CO.ID - Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang menyoroti tajam kasus ledakan bom rakitan yang diduga kuat diracik oleh salah seorang pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang akibat akumulasi perundungan.
Kasus tragis tersebut dinilai menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pencegahan bullying, menjaga kesehatan mental, hingga membatasi penggunaan gawai pada anak.
Sekretaris Dindik Kabupaten Tangerang, Agus Supriatna menegaskan, dugaan aksi nekat siswa di Padang tersebut tidak boleh dilihat sebelah mata dan harus dibongkar akar masalahnya secara komprehensif.
"Apa yang melatarbelakangi anak ini bertindak sedemikian jauh. Ternyata ini berawal dari bullying di sekolah dan anak ini sering menjadi korbannya, lalu terakumulasi hingga dia berbuat nekat," ujar Agus Supriatna kepada wartawan, Rabu, 15 Juli 2026.
Sebagai langkah nyata menangkal kasus serupa, Dindik Kabupaten Tangerang langsung memperkuat benteng sekolah lewat program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BASN) yang disisipkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Program BASN ini difokuskan untuk membangun ekosistem belajar yang aman secara fisik, psikologis, sosial, hingga digital, serta membebaskan siswa dari kekerasan dan diskriminasi.
Agus juga meminta seluruh elemen mulai dari guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, hingga orang tua bertindak sebagai sistem deteksi dini untuk membaca perubahan perilaku siswa yang mencurigakan.
"Pendekatan yang dilakukan harus pembinaan, pendampingan, dan konseling, bukan memberikan stigma atau menghakimi peserta didik," tegasnya.
Di sisi lain, penguatan literasi digital juga dinilai mendesak agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh konten radikalisme, kekerasan, maupun cara merakit senjata berbahaya di internet.
Dindik Kabupaten Tangerang mengingatkan bahwa pengawasan ruang digital anak tidak bisa mutlak dibebankan kepada guru di sekolah semata.
"Gawai bisa berada di tangan anak, tetapi nilai dan karakter harus tetap berada dalam bimbingan orang tua. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan benteng terkuat," tutup Agus.