Polisi Perketat Pengamanan TPA Jatiwaringin dan Pantau Pengungsian Warga Terdampak
Sejumlah personel kepolisian disiagakan untuk mengamankan area kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. (Rikhi Ferdian)
fin.co.id - Sejumlah personel kepolisian disiagakan untuk mengamankan area kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Petugas melakukan pengaturan akses keluar masuk lokasi, berpatroli di permukiman terdampak, serta memantau tempat pengungsian warga yang dievakuasi akibat kepulan asap.
Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah memimpin langsung apel pengamanan di kawasan TPA Jatiwaringin pada Jumat (3/7/2026). Langkah pengamanan dan sterilisasi ini diperketat setelah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan kualitas udara di lokasi tersebut sudah masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
"Yang paling utama kami kerjakan saat ini adalah memadamkan titik api dan menyelamatkan warga, memastikan jangan sampai terdampak asap. Fokus utama saat ini adalah mendukung proses penanganan kebakaran agar api tidak terus meluas," kata Indra Waspada di Tangerang, Jumat.
Selain menjaga keamanan, personel Polresta Tangerang juga diperbantukan untuk mendampingi tenaga medis dari puskesmas dan Dinas Kesehatan. Mereka memastikan warga terdampak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, mendapatkan pelayanan medis akibat paparan asap. Indra Waspada juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati atau berkerumun di lokasi kebakaran demi kelancaran mobilisasi kendaraan pemadam.
Sebelumnya, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani, mengungkapkan bahwa kadar partikel halus PM2.5 di sekitar lokasi telah mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik. Udara di kawasan tersebut juga terdeteksi mengandung zat berbahaya seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) yang berisiko tinggi menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menurut pihak KLH, kebakaran di TPA menghasilkan dampak polusi yang jauh lebih berat dibanding kebakaran hutan. Hal ini terjadi karena banyaknya material plastik, biomassa, dan gas metana yang ikut terbakar. Terkait kondisi darurat ini, pihak kepolisian menegaskan bahwa patroli berkala di permukiman dan pengungsian akan terus dilakukan hingga situasi kembali normal.