Sabtu, 10 Oktober 2026
--°C --
-- · --
News

DLHK Tangerang Telusuri Potensi 190 Perusahaan Terlibat Pencemaran Sungai Cimanceuri 

RF
Tim Redaksi
09/10/2026, 14:16 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi tangerangraya.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
DLHK Tangerang Telusuri Potensi 190 Perusahaan Terlibat Pencemaran Sungai Cimanceuri 

Aliran Sungai Cimanceri di Desa Budi Mulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, berubah warna menjadi hitam pekat. (Rikhi Ferdian)

TANGERANG, FIN.CO.ID — Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang mengawasi ketat sedikitnya 190 perusahaan di Kawasan Industri Milenium yang berpotensi menjadi sumber pencemaran Sungai Cimanceuri. Langkah ini diambil menyusul berubahnya kondisi air sungai yang menghitam pekat dan mengeluarkan aroma tidak sedap di sekitar wilayah industri tersebut.

Untuk menguak kepastian sumber limbah, otoritas lingkungan hidup setempat telah mengambil sampel air di tiga lokasi strategis untuk diuji secara ilmiah. Kepala Seksi Bina Hukum DLHK Kabupaten Tangerang Sandi Nugraha menyatakan bahwa kepastian hukum dan penindakan terhadap pelaku pencemaran masih harus menunggu validasi data laboratorium.

"Jadi untuk yang sampling nanti tinggal nunggu hasilnya. Sekitar 14 hari kerja," ujar Sandi, dikutip Jumat (9/10/2026).

Pihak DLHK mengakui bahwa proses identifikasi memerlukan ketelitian mendalam mengingat banyaknya jumlah pelaku industri yang beroperasi di dalam kawasan tersebut. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk memetakan kepatuhan lingkungan dari masing-masing penyewa lahan industri.

"Kalau saya lihat dari waktu pas verifikasi awal memang sumbernya ada dari dari kawasan ya, dari apa kawasan. Cuma kita belum tahu nih yang itu tuh tenant-tenant yang mana aja. Soalnya ada 190-an untuk jumlah industri," kata Sandi.

Dugaan pembuangan limbah tak berizin ini pertama kali dikeluhkan oleh masyarakat yang tinggal di perbatasan Desa Budi Mulya, Kecamatan Cikupa, dan Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa. Selain karena beban polusi, debit Sungai Cimanceuri yang menyusut drastis akibat kemarau ekstrem membuat konsentrasi zat pencemar kian pekat.

"Sudah beberapa minggu ini Air Sungai menyusut, lalu berubah warna menjadi hitam pekat. Bahkan, mengeluarkan aroma bau yang sangat tidak sedap," kata Muhammad Ari, salah seorang warga Desa Budi Mulya.

Kondisi lingkungan yang memburuk ini memicu desakan dari warga agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan tegas. Penduduk di sekitar aliran sungai meyakini bahwa penurunan kualitas air yang terjadi secara mendadak tersebut bukan merupakan fenomena alam biasa, melainkan dampak langsung dari kelalaian operasional pabrik.

"Kayanya terkontaminasi oleh limbah industri, soalnya airnya hitam banget dan bau juga," tambahnya.

Bagikan Artikel
Rikhi Ferdian
Rikhi Ferdian
Penulis
FIN Biro Tangerang Raya