News . 26/09/2026, 12:41 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian | Editor : Rikhi Ferdian
TANGERANG, FIN.CO.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang bergerak cepat melakukan langkah antisipatif guna mengatasi krisis air bersih akibat fenomena El Nino yang melanda sejumlah wilayah. Melalui koordinasi intensif lintas sektoral, penanganan dampak kekeringan diprioritaskan pada wilayah-wilayah yang paling membutuhkan, salah satunya di Kecamatan Tigaraksa.
Camat Tigaraksa Cucu Abdurrosyied mengatakan bahwa langkah respons cepat ini merupakan instruksi langsung dari Bupati Tangerang yang didukung penuh oleh pemerintah provinsi. Berbagai upaya mulai dari pendistribusian air bersih secara harian hingga pembangunan infrastruktur permanen telah direalisasikan.
"Kami sudah berkoordinasi dan melaporkan kondisi lapangan kepada Pak Bupati. Penanganan kekeringan ini dilakukan secara gerak cepat, baik melalui pengiriman bantuan logistik air maupun pembangunan Sarana Air Bersih (SAB) di titik-titik krusial," ujar Cucu, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Cucu, beberapa wilayah di Tigaraksa yang sebelumnya mengalami dampak paling signifikan kini mulai terfasilitasi dengan baik. Wilayah tersebut meliputi Desa Margasari, Kelurahan Kadu Agung, Desa Bantar Panjang, Desa Cileles, hingga kawasan Sodong dan Pasir Bolang. Di Kelurahan Tigaraksa sendiri, dampak kekeringan dilaporkan hanya terjadi di satu titik, yaitu di kawasan Katomas, yang kini telah dilengkapi dengan fasilitas SAB.
Pembangunan SAB dinilai sangat efektif dalam memitigasi krisis air tahunan. Di Desa Margasari, pemerintah daerah telah membangun empat titik SAB, sementara beberapa titik lainnya tersebar di Kelurahan Kadu Agung, Bantarpanjang dan Perumahan Triraksa untuk meng-cover kebutuhan warga Kampung Tegal Baju.
"Pembangunan SAB ini sangat efektif. Bahkan di Tegalbaju, ada sarana yang belum sempat digunakan secara maksimal karena sumber air bawah tanah warga sekitar saat ini masih mencukupi. Ini membuktikan bahwa ketersediaan sarana air bersih kita sangat siap," lanjutnya.
Meskipun demikian, Cucu mengakui adanya kendala teknis di beberapa lokasi, seperti di Bantar Panjang. Fasilitas SAB telah selesai dibangun di desa tersebut, namun debit air bawah tanah yang keluar masih tergolong minim, sehingga distribusinya belum berjalan optimal.
Terkait mekanisme anggaran kebencanaan, Cucu menjelaskan bahwa pos anggaran berada di bawah kendali Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait. Pihak kecamatan berfungsi sebagai fasilitator yang memproses permohonan dari para lurah dan kepala desa.
"Untuk distribusi air bersih darurat, kami langsung berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja, BPBD, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman (Perkim). Sedangkan untuk pembangunan fisik SAB, seluruh penganggarannya berada di bawah kewenangan Dinas Perkim," jelas Cucu.
Lurah Tigaraksa, Eko Suyanto, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipasi terkait penanganan krisis air di wilayahnya, salah satunya di kawasan Katomas dan kini telah mendapatkan bantuan infrastruktur yang memadai.
Selain itu, laporan kekeringan juga datang dari wilayah Pabuaran. Kata dia, seluruh titik tersebut kini telah berhasil dipasok air bersih oleh Dinas Perkim dan BPBD Kabupaten Tangerang. Eko menilai, sejauh ini tidak ada kendala berarti di lapangan karena respons cepat dari pemerintah daerah. "Ada keluhan tapi sudah ditangani," tandasnya.
Hingga saat ini, Pemkab Tangerang bersama Perumdam Tirta Kerta Raharja terus memonitor situasi di lapangan dan menyalurkan air bersih setiap hari ke wilayah terdampak. Masyarakat yang masih mengalami kesulitan air bersih diimbau untuk segera melapor agar bantuan armada tangki air dapat langsung dikirimkan ke lokasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media