Kesehatan . 15/06/2026, 10:17 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian | Editor : Rikhi Ferdian
fin.co.id - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, memastikan ketersediaan stok obat aman hingga akhir tahun 2026. Pihak rumah sakit milik pemerintah daerah ini juga menegaskan belum ada pembatasan pemberian obat kepada pasien BPJS Kesehatan.
Direktur RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri mengungkapkan bahwa seluruh pelayanan obat di faskes yang dipimpinnya masih berjalan normal dan diberikan sesuai dengan indikasi medis.
"Stok obat kita sampai saat ini cukup sampai akhir tahun. Alhamdulillah, kami sudah melakukan pengadaan di awal tahun, jadi belum sempat terdampak kenaikan harga," ujar dr. Faridzi, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kebijakan pengadaan logistik fasilitas kesehatan (faskes) sejak dini berhasil mengamankan kuota obat bagi masyarakat. Oleh karena itu, pembatasan pemberian obat akibat melonjaknya harga obat di pasaran imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah, tidak memengaruhi pelayanan pasien di RSUD Tigaraksa.
Mengenai pemenuhan kebutuhan obat pasien, ia menegaskan bahwa seluruh persediaan mengacu pada Formularium Nasional (Fornas) rilisan Kementerian Kesehatan. Kebijakan ini mencakup penyediaan obat generik dan non-generik yang sesuai standar regulasi pemerintah.
"Jadi kita mengacu kepada aturan tersebut. Generik ada, yang tidak generik juga ada. Kalau memang harganya sama, tidak ada masalah juga, tidak generik. Karena yang tidak generik juga belum tentu mahal," ujarnya.
RSUD Tigaraksa juga mencatatkan tren kenaikan volume kunjungan pasien selama semester pertama tahun 2026. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah kunjungan pasien rawat jalan mencapai 10.269 orang, pasien IGD sebanyak 6.580 orang, dan pasien rawat inap tercatat sebanyak 3.193 orang.
"Kunjungan terus meningkat. Kapasitas 117 tempat tidur rawat inap kami sudah full. Saat ini belum ada rencana pembangunan gedung baru, namun kami memaksimalkan untuk menambah kapasitas tempat tidur," lanjut Faridzki.
Ia menuturkan, jika mayoritas pasien yang datang berobat didominasi oleh keluhan penyakit dalam. Kasus tertinggi mencakup penyakit degeneratif akibat pola hidup seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, unfeksi saluran pernapasan, dan gangguan pencernaan.
Menanggapi kerap terjadi penumpukan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ia tidak menampik tingginya antusiasme warga untuk berobat ke RSUD Tigaraksa. Ia menjelaskan bahwa rasio jumlah rumah sakit pemerintah dengan total penduduk Kabupaten Tangerang saat ini memang belum ideal.
Namun, ia mengingatkan masyarakat bahwa fasilitas kesehatan swasta di wilayah Tangerang sebenarnya dapat menjadi alternatif pengobatan yang setara.
"Masyarakat tidak perlu khawatir atau takut dibebani biaya di rumah sakit swasta. Banyak rumah sakit swasta yang juga melayani program BPJS Kesehatan secara gratis dengan standar pelayanan yang sama bagusnya. Distribusi pasien yang merata ke faskes swasta akan sangat membantu mengurai antrean di rumah sakit pemerintah," pungkasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media